Aku dan Malam Minggu

Duduk di depan laptop, ditemani segelas coklat panas tanpa susu dan cemilan “sekadarnya”. Menjalankan iTunes dan kemudian mulai berselancar ke dunia si maya dengan koneksi broadband yang kadang koneksinya kayak nenek-nenek habis disuruh lari marathon. Itulah sedikit kegiatan rutin yang dilakukan jika sudah malam mingguan, versi saya tentunya hehehe…

Malam mingguan seringkali identik dengan wakuncar, waktu kunjung pacar. Biasanya baik laki-laki maupun perempuan yang sudah cukup umur akan mengalami saat-saat dimana mereka akan ditanyai tentang acara malam mingguannya. Gak tau sejak kapan tradisi ini dimulai. Apakah karena aturan 6 hari kerja dan 1 hari libur di akhir pekan, maka satu-satunya malam yang besoknya libur adalah malam minggu, sehingga malam minggu ditetapkan secara tak tertulis dan turun temurun menjadi waktu khusus untuk ritual kunjung pacar. Saya gak tau apakah di negara lain juga berlaku hal yang sama? Mungkin ada yang bisa kasih masukan, dengan senang hati saya terima hehe..
Saking identiknya malam mingguan dengan waktu kunjung pacar alias ngapel, buat orang-orang yang menghabiskan malam mingguannya dengan kegiatan selain wakuncar biasanya akan menimbulkan tanda tanya. Pertanyaan yang sering muncul biasanya adalah, “gak ngapel mas?” buat tersangka laki-laki, dan “koq gak diapelin mbak?”, untuk korban perempuan hihihi…

Nah, karena saya juga sudah sering menjadi tersangka laki-laki, yang selalu ditanyai pertanyaan yang sama hampir tiap malam minggu, maka saya mencoba sedikit berbagi cerita pengalaman menghabiskan malam mingguan saya selama ini.

Masa SMP, tinggal dengan orang tua
Dulu waktu masih tinggal dengan orang tua sampai usia SMP, gak terlalu mikirin masalah malam mingguan, lha pacar gak punya, gebetan ada sih, tapi jaman itu rasanya koq masih kekecilan ya buat pacaran. (Padahal sih alasan sebenarnya karena dilarang ortu ajah hehe..). Jadi malam mingguan dihabiskan bersama keluarga di rumah, nonton tv, makan-makan di luar atau mama masak sesuatu yang istimewa buat kami

Masa SMK, pengalaman pertama jauh dari orang tua
Lulus SMP, melanjutkan sekolah di kota berbeda dengan orang tua. Mau gak mau ya harus ngekos. Kebetulan daerah dimana saya kos memang dekat dengan sekolah dan perguruan tinggi, sehingga banyak dibuka tempat kos di daerah tersebut. Rata2 rumah kos di kota ini memang menerapkan aturan pemisahan gender, jarang terjadi dalam satu kos menerima laki-laki dan perempuan sekaligus. Yang unik sebagian besar adalah kos khusus cewek. Gak tau juga ya, kenapa lebih banyak yang menerima kos cewek dibanding cowok. Rata2 sih alasannya kalo cewek itu lebih penurut, relatif gak macam-macam dan gampang ngaturnya. Lebih bersih dan gak berisik kayak cowok. Hmmm… penilaian yang subjektif untuk zaman emansipasi seperti sekarang 😀

Banjarbaru, tempat saya menghabiskan 3 tahun sekolah disana merupakan kota yang tenang dan waktu itu masih sedikit sekali pilihan sarana hiburan dan tempat ngumpul-ngumpul. Biasanya saya menghabiskan malam minggu dengan main ke asrama putra (sekolah kami menyediakan asrama putra dan putri untuk siswa kelas 1 & 2) yang letaknya gak begitu jauh dari kos. Disinilah para jombloers yang gak ada kerjaan dan gak ada punya jadwal ngapel merencanakan acara untuk menghabiskan malam mingguan. Kegiatannya sih standar, main game, baca komik, ngobrol sambil main gitar gak jelas atau kalo lagi benar-benar bete, rame-rame ke sekolah dan ngumpul dengan teman-teman penghuni asrama putri yang sama-sama mencari udara segar, ehm sekalian tepe-tepe juga sih hihihi… Pokoknya menggembirakan diri setelah seminggu dipenuhi dengan tugas dan praktikum yang menumpuk. Malam mingguan bagi kami waktu itu adalah pelepasan penat, salah satu cara bagi kami untuk menikmati masa-masa remaja yang sudah dipenghujung dan akan segera berakhir *halah bahasanya*.

Hampir gak ada niat buat mengikuti teman-teman lain yang sudah melepas status jomblo dan mengganti jadwal acara malam mingguannya dengan ngapel ke pujaan hati. Selain karena banyak teman main. Waktu itu malah males banget kalo ngebayangin ritual malam minggu, seperti ngapel ke tempat yayang, ngajakin makan, nganter pulang, ngobrol-ngobrol di teras rumah/kosannya dia sampai jam 9 terus pulang. Koq kayaknya ngerepotin banget, saklek, membosankan, gak bebas mau kemana dan ngapain sesuka hati. Daripada duitnya buat ntraktir mendingan dipake buat beli kaset terbaru Padi n So7 kan? Belum lagi kalo lagi ada masalah sama pacar, plus bete dan acara cemburu segala, bisa-bisa kenikmatan masa-masa SMK ga bakal bisa dinikmati kalo gitu caranya.
Hahahay… Gimana bisa dapat pacar ya, belum juga pacaran udah ngebayangin yang serem2 duluan.

Jangan salah, bukan berarti selama di SMK saya gak pernah naksir cewek loh. Biarpun menyandang nama sekolah menengah kejuruan teknik, namun saat itu lebih dari separuh penghuninya adalah perempuan. Ada beberapa yang pernah saya taksir, tapi keinginan untuk bebas tanpa terikat masih kuat, ditambah rasa malas untuk meningkatkan rasa suka ke tingkat pedekate juga susah dihilangkan. Entah karena yang saya taksir rumahnya jauh dari kosan jadi males mau ngapelin, atau karena keder duluan gara-gara spesifikasi ceweknya terlalu “tinggi” buat saya. Jadilah selama 3 tahun sekolah disana gak ada satupun gadis yang pernah saya jadikan pacar. Kadang ngiri juga sih sama teman-teman yang asik berduaan pacaran. Hanya karena waktu itu masih menikmati asiknya bebas lepas dari orang tua maka dengan santainya saya menjalani masa 3 tahun di SMK sebagai single. Ternyata asik hehe…

Biarpun banyak teman main, tapi kadang ada juga masa dimana benar-benar mati gaya di malam minggu. Bingung mencari teman malam mingguan kalo sudah kena liburan yang nanggung. Kalo liburan hanya 2 atau 3 hari gak mungkin mudik. Rumah saya yang waktu tempuhnya 8 jam via darat dari Banjarbaru tentu bukan pilihan bijak kalau harus mudik dalam waktu yang mepet seperti itu. Selain capek, waktu liburannya juga kurang maksimal. Kosan sepi, ke asrama juga sunyi, mau jalan namanya anak kos dana terbatas, kalau sudah gini yang paling sering dilakukan apa lagi kalo bukan nonton tivi atau film sewaan dari rental deket kos. Maklum, Banjarbaru mana ada bioskop atau mall seperti di kota2 besar.

Masa kuliah di Purwokerto
Lulus SMK, saya melanjutkan pendidikan di Purwokerto, sebuah kota di Jawa Tengah. .
Disini pergaulan saya meluas, banyak mendapat teman dari daerah yang sebelumnya hanya saya dengar dari berita di televisi atau internet. Tidak hanya dari Jawa, tapi juga dari Sumatera dan Sulawesi. Kebanyakan teman-teman yang dari luar Jawa ini alumni SMK dibawah yayasan yang sama dengan SMK saya, hanya beda lokasi dan jurusan yang diambil.
Saat kuliah, saya berniat untuk tetap konsentrasi ke kuliah dan menunda mencari pacar, prinsipnya sih, baru mau punya pacar kalau sudah punya penghasilan sendiri. Tapi, hati memang gak bisa dibohongi, sempet naksir seorang gadis Jawa nan ayu lan manis teman satu lembaga kursus. Udah cakep, supel, pinter pula. Tapi lagi-lagi rasa gak pede menyerang, ditambah keraguan antara harus memilih prinsip awal atau mengutarakan perasaan, kelamaan mengambil keputusan, jadilah sampai lulus tak ada satupun pernyataan cinta meluncur keluar. Semua disimpan rapi didalam hati, bahkan teman-teman dekat pun gak tau kalau saya naksir dia.
Lalu apa yang saya lakukan dalam menghabiskan malam mingguan selama kuliah di Purwokerto?
Kali ini pilihannya lebih banyak. Lebih banyak yang bisa dieksplorasi di Purwokerto. Ada alun-alun, ngenet paket hemat di warnet daerah Unsoed, jalan-jalan ke Moro atau nonton sama teman-teman kos di bioskop Rajawali. Bisa juga sekedar main ke kosan teman-teman alumni satu SMK yang gak jauh dari kampus. Kalau lagi kambuh malasnya ya cukup dikosan aja nonton tivi atau main game sambil rame-rame makan martabak.

Setelah Bekerja
Setelah bekerja dan tinggal di Jakarta, masalahnya masih sama. Masih suka bingung mau ngapain kalo malam mingguan. Dulu waktu masih satu kos dengan teman-teman sekantor, malam mingguan dihabiskan dengan makan di Sabang, jalan-jalan sampai malem atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol di ruang tengah. Sekarang mereka sudah pindah kos. Bedanya sekarang sudah ada laptop, internet broadband, dan dekat dengan pusat perbelanjaan. Jadi kalaupun sendirian, mau kemana dan bagaimana melewatkan malam mingguan jelas lebih banyak pilihannya.

Bagaimana dengan anda, apa dan bagaimana anda melewatkan malam mingguan anda dulu dan sekarang?

Advertisements

4 thoughts on “Aku dan Malam Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s